Sabtu, 06 Agustus 2011

Sebentuk Hati

'DENIAAAAA!!!.'
Teriak seorang lelaki dengan kulit sawo matang berbadan tegap sambil berlari ke arah perempuan itu. 'Apaan sih? Jangan teriak-teriak, malu-maluin gue aja lo.' Balas perempuan yang akrab dipanggil Denia itu dengan gusar. 'KEMANA AJA LO!?.' Teriak lelaki itu lebih keras. Denia menghampirinya dan membekap mulutnya. 'Diem lo, Ran! ngomong lagi gue kubur hidup-hidup lo.' Karan, biasa lelaki itu disapanya malah cekikikan geli.


Sudah lama Denia menyukai Karan, lelaki yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil yang kini satu SMA dengannya. Apa yang dia sukai? Mungkin semuanya. Cara berjalannya, cara bicaranya, cara dia memperlakukan teman-temannya, caranya bergaul. Semuanya ia sukai. Ya, tapi Denia hanya bisa sekedar menyukai saja, nggak mungkin dia bisa menjalin hubungan lebih dari sahabat.


'Ngelamun ae lo! Eh, kayaknya.. Lu kagak tinggi-tinggi ya^^.' Tegur Karan, menyadarkan Denia dari lamunannya. 'Apaan sih lo? Anjir, mentang-mentang tinggi.' Dengus Denia sebal. 'Kamu pendeeeek! Hahaha.' Goda Karan sambil mengacak-acak rambutnya. Denia tertegun sesaat, perlakuan Karan padanya bisa membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Karan, jangan gini terus dong. Batin Denia ikut bicara.



Bel istirahat berbunyi. Siswa dan siswi mulai berhamburan keluar kelas untuk sekedar melepas penat atau melepas lapar dan haus di kantin sekolah mereka yang terkenal gaulnya itu. Denia duduk sendirian diujung dekat dengan tukang pop ice, dia memang sedang tidak ingin di ganggu siapapun saat itu. Mengingat semakin hari rasanya ia semakin menyukai Karan tanpa ada usaha untuk menyatakan perasaannya dalam bentuk apapun. Panjang umur! Lelaki itu menghampirinya. Jantungnya berdegup kencang, Denia berharap tak ada seorang pun yang mendengarnya.

'Eh, pendek. Ngapain lo sendirian disini?' Tanya Karan sambil merebut minuman dari tangan Denia. Denia sangat suka jika Karan sedang mengibaskan rambutnya dan kemudian mengacaknya. Rambutnya yang basah karena keringat membuat efek yang keren jika dilihat dalam bentuk slow motion saat itu. 'Suka-suka gue dong, eh bayar tu minuman. Gue mau ke kelas dulu.' Kata Denia sambil tergesa-gesa pergi dari tempat yang sudah seperti neraka itu. 'Eits, tungguin dong. Cape-cape gue nyamperin lo!' Sergah Karan sambil menarik baju Denia. 'Apaan sih lo? Ah rese!!' Bentak Denia dengan ketus. 'Nanti pulang sekolah jangan balik duluan ya, ada yang mau gue omongin.' Karan tersenyum misterius. Deg.
Anjir, lama banget tu anak. Ngerjain gue banget sih siang-siang suruh nungguin dia, argh!
'Hoi, Den!' Teriak Karan dari jauh. Tergesa-gesa ia menghampiri Denia dengan sisa nafas yang masih ada sebelum malaikat menjemputnya karena hampir tertabrak mobil. 'Lama banget, Ran? Cape nih, puanas!' Protes Denia. 'Iya, maaf Den tadi gue briefing basket dulu hehe. Eh ya ada yang mau gue omongin sama lu.' Deg! Lagi-lagi, kata-kata itu membuat jantungnya berdegup kencang. 'Ng, apa Ran? Berita buruk atau baik nih? Hehe.' Jawab Denia salah tingkah.
'Berita baik sih kalo menurut gue, tapi belum tentu baik menurut lu. Oke, to-the-point ya.'
'Iya, buruan.'

Tanpa ragu lagi, Karan memegang tangan Denia sambil berkata, 'Den, sebenernya gue udah lama mendem ini, gue takut banget kalo ditolak sama lo dan akhirnya kita jadi ngejauh. Den, gue suka sama lo, suka banget. Gue tau gue gak sempurna, tapi inilah gue yang mencintai lo apa adanya dengan sepenuh hati, Den. Will you be mine?' O-ow! Jantung Denia rasanya hampir copot. Nafasnya sesak dan wajahnya panas. 'Ran, lo... Serius?' Tanya Denia ragu tanpa menatap matanya. 'Jangan maksa gue buat jawab itu, Den. Lo tau jawabannya, gue gak bakal mungkin bercanda kalo udah menyangkut perasaan.' 'Mm... Berapa lama?' 'Selamanya, mungkin.' Tanpa pikir panjang Denia menjawab, 'Gue... Mau.' Kata Denia mantap sambil berseri-seri. 'Sebentuk hati ini, gue serahin buat lu seorang. Takkan ada dusta dan orang lain. Cuman lu satu-satunya. Gue harap cinta kita bakal terus seperti ini, bukankah seperti ini seharusnya cinta? Mencintai tanpa lelah sedikitpun.' Senyum Karan mengembang, terlihat indah saat itu. Hati Denia berbunga-bunga menatap Karan dengan tatapan cinta yang malu-malu, berharap agar hubungan ini akan menjadi sesuatu yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Images by Freepik