Senin, 14 Mei 2012

Nostalgia

Aku yang memikirkan, namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan, tapi ku tak bisa
Mengapa begini?

Alunan lembut suara Monita menemaniku bernostalgia malam ini. Mengingat tentang kejadian dua bulan belakangan ini, sampai akhirnya kamu pergi lagi meninggalkanku. Tapi, aku masih ingat rasanya. Rasanya jatuh cinta. Jatuh cinta sama kamu. Iya, kamu. Lelaki tampan dengan kumis tipis dan kulit sawo matang. Tak pelak kacamatamu itu, membuatku semakin terhipnotis ke dalam dirimu.


Kamu pernah datang ke duniaku, dua tahun yang lalu selama tiga minggu. Tiga minggu yang mengesankan, menurutku. Aku juga masih ingat bagaimana rasanya. Rasa ketika kamu mengacuhkanku dan akhirnya pergi. Namun, selama tiga tahun ini kita terus terjebak dalam satu kelas yang sama. Inikah permainan takdir? Membiarkanku merasakan sakitnya melihatmu bercanda tawa dengan wanita lain. Apa kuasaku? Tak ada. Status kita hanya sekedar sebagai teman yang sangat dekat. Ya, mungkin sahabat.



Hilang dan timbul, mungkin seperti itu perasaanku padamu. Hilang ketika aku membencimu dan timbul ketika aku melihatmu tersenyum. Dan sampai suatu hari Tuhan mendengar do'aku, mungkin Ia lelah melihatku yang terus-terusan menunggumu. Kamu berjanji padaku akan kembali padaku suatu saat nanti. Perjanjian sederhana yang membuatku semakin terjatuh ke dalam drama yang kita mainkan saat ini. Sempat terlintas dalam benakku bahwa memang kita ditakdirkan untuk bersama. Berlebihan? Namanya juga jatuh cinta. Semakin dalam jatuh, semakin berlebihan efek yang ditimbulkan.

Tapi... Aku salah. Aku mendengar kamu mendekati orang lain. Siapa? Sahabat kita. Iya, dia. Aku hancur. Bukan, ini bukan tentang rasamu, tapi tentang janji yang kamu lontarkan. Apakah janji itu hanya main-main? Atau apa? Entahlah. Aku mulai mencaci dan memaki di jejaring sosial. Menyesal telah mempercayaimu sedalam itu lagi. Tak ada yang mengatakan padaku bahwa kalian saling menyukai. Kalian sama-sama menutupi dengan kalimat yang hampir sama, 'itu cuma gosip kok'. Nyatanya? Iya, kalian munafik. Aku berusaha tidak mengacuhkan kalian dan tetap fokus pada jalan hidupku. Tapi, rasa ini membuyarkanku. Membuyarkan titik fokusku. Aku keluar dari jalurku dan memainkan peran tanpa naskah.


Oh, mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu
Untuk ada disini menemaniku
Oh, mungkinkah kau yang jadi kekasih sejatiku?
Semoga tak sekedar harapku


Apa yang terjadi? Apakah Tuhan masih ingin mengulang drama kita dengan jalan cerita berbeda? Mungkin. Dan itu dibuktikan dengan hadirnya kamu, lagi. Ingatanku terlalu kuat untuk melupakan hal-hal kecil seperti ini. Tanggal 24 Februari 2012, aku dan kamu mulai menulis lembaran-lembaran cerita baru lagi.
Inikah jatuh cinta? Ketika aku tersipu malu setiap kamu menatapku. Ketika jantungku berdegup kencang setiap kamu tersenyum. Ketika darahku berdesir setiap kamu memegang tanganku. Ketika munculnya perasaan bahagia setiap mendengar suaramu. Ketika muncul perasaan sayang di setiap perdebatan kecil kita. Dan ketika aku tetap merasa nyaman duduk berdampingan denganmu meskipun tak ada satupun dari kita yang melontarkan kata-kata. Inikah?

Aku tersadar, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ketika kamu mulai mengacuhkanku lagi dan ketika aku harus mengetahui kenyataan tentang perasaanmu kepadaku dari orang lain, bukan dari kamu. Menurutku, semua itu lebih menyakitkan dari janji yang dilanggar. Tepat di tanggal itu, ya 12 Mei itu aku dan kamu mulai menjauh. Menapaki hari kita masing-masing lagi. Cerita-cerita tentang kita mulai berhenti ditulis. Aku sangat merindukanmu dan mungkin aku tidak akan melupakanmu. Aku berharap kita tidak berpisah, tapi Tuhan tetap berkehendak lain. Kalau kamu memang ditakdirkan untukku, bukankah suatu hari nanti kita akan bertemu lagi? Kisah hari ini, aku akhiri.



Bila kau menjadi milikku
Aku takkan menyesal telah jatuh hati...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Images by Freepik