Sabtu, 05 Mei 2012

Pecandumu

Menghadap senja ia terpaku, tanpa mendongak ke arahku. Ia duduk beralaskan rumput, dibukit kecil yang manis itu. Tepat ketika senja sudah mencapai di ujung barat, ia memanggilku ke tempat kenangan itu. Tempat awal pertautan hati kita. Tempat awal mempersatukan langkah kita. Indah memang, mengalirkan kenangan-kenangan yang pernah singgah dalam memoriku.

Siluet wajahnya begitu manis ditatapku, membuat siapa saja ingin memilikinya sepenuh hati, beruntunglah aku menjadi abdinya. Dia keturunan Indonesia-Jerman, sangat berbeda dan eksotis. Matanya berwarna biru telaga dengan bulu mata yang lentik, bibir mungil yang merah, rambutnya yang ikal dan tebal berwarna cokelat keemasan, kulitnya yang putih bersih dan halus membuatku tak henti memujanya.

Aku menggenggam tangannya, mengecupnya dan mendekapnya di dadaku.
Mencoba untuk merasakan hatinya melalui tangannya, tetap tak dapat kumengerti apa yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Aku kehilangan kehangatan dan keceriaan Reynanta Gisellandria yang dulu.
Dimana jiwamu, Rey?

"Fir.." Panggilnya lembut, tanpa mengalihkan pandangannya dari senja.
"Iya, Rey? Ada apa?" Semakin erat kugenggam tangannya, aku tak mau kehilangannya.
"Aku.. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Suaranya sedikit bergetar. Aku tak membaca hawa bahagia dari nadanya berbicara, apa yang terjadi padanya? Apa yang seseorang lakukan padanya?

Aku menghias wajahku dengan senyum, sedikit terpaksa. "Kenapa, Rey? Bilang aja." Kucoba tenangkan denyut nadinya yang semakin kencang berdegup dengan mendekap kedua tangannya. Dia menatapku dengan wajah penuh penderitaan, terlihat bekas aliran air mata disana. Diam, tak bergeming.
"Reynanta? Kenapa diam?" Tanyaku sambil kulepaskan satu tangannya dan memeluknya bahunya dengan tangan kiriku. Bahunya berguncang perlahan, kemudian terdengar isak tangis. Aku menatapnya, sakit. Aku tak mau melihat dia menangis seperti ini, sama saja seperti menghancurkanku.
Ku hapus air matanya. Sekali.. Dua kali.. Sampai akhirnya ia menepis tanganku begitu menyadari bahwa air matanya menambah deras alirannya.

"Firman...." Suaranya sangat parau, terdengar dari hembusan panjang napasnya, ia mencoba tenang.
"Ada apa, Rey?" Aku mencoba bersikap tenang, perasaanku tidak enak. Jantungku berdebar-debar, kencang.
"Aku mencintaimu setulus hatiku, Fir--" Kalimatnya menggantung. Dia menggenggam kembali kedua tanganku, mengelusnya dengan lembut. Hangat, namun gerakannya sangat dingin. Dia menghela napas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan.
"Kita pernah punya keinginan untuk bertahan lama kan? Sampai ke jenjang pernikahan nanti." Matanya menatapku, dalam.
Aku tersenyum, mengingat anganku yang selalu kuimpikan.
"Iya Rey, aku ingin itu. Aku ingin menjadi imam untukmu dan anak-anak kita nanti. Aku ingin ka---"
"Aku takut keinginan itu nggak akan terwujud, Fir. Tolong berhenti berharap!" Dia memotong kalimatku. Suaranya meninggi, seperti majikan memerintah kepada anjingnya.
Aku terkejut.
"Kenapa, Rey? Aku mencintaimu setulusnya!" Kutekankan kalimatku. Aku ingin meyakinkannya bahwa aku bersungguh-sunggguh dengan perasaanku.
"Aku juga mencintaimu, Fir! Bahkan rasaku lebih besar darimu! Tapi aku sedang diambang pernikahan dengan orang yang tidak aku cinta!" Suaranya bergetar, napasnya terengah-engah, air mata semakin deras mengalir dari mata almondnya.

Aku seperti dihempaskan jauh ke dasar bumi. Sakit merajang hatiku. Terkuras oksigenku, sesak. Air mata berkumpul di pelupuk mataku. Aku tak dapat berpikir jernih, aku takut salah langkah. Aku ingin pergi dari sini saat ini juga! Namun kurasakan tangan hangat menggenggam tanganku, mencoba mengalirkan kebahagiaan. Mati rasa. Aku tetap kesepian.

Aku mengusap air matanya dan memeluknya dari belakang. Mencoba mengobati seluruh rinduku untuk terakhir kalinya. Aku mengecup pucuk kepalanya. Aku tak ingin melepaskannya. Kurasakan hembusan angin mencumbu wajahku, dingin, kejam, tak berperasaan, namun mengagumkan. Aku mencintai wanita ini. Begitu dalam, begitu tulus, begitu indah. Aku menginginkannya untuk menjadi bagian dari tulang rusukku. Namun ternyata, bukan dia bagian dari tulang rusukku.
Dimanakah keadilan, ketika cinta abadi dipisahkan oleh takdir?

"Rey, dengarkan aku." Ucapku dengan nada lembut. Kubelai rambutnya.
"I.. Iya, Fir." Balasnya dengan terbata.
"Kamulah milikku, Rey. Milikku sampai kapanpun walau itu semu. Kamu satu-satunya yang aku cinta. Jangan menangis lagi! Aku nggak suka liat air mata kamu. Jangan pernah merasa kehilangan, karena aku akan tetap disini selamanya. Aku akan tetap ada ketika kamu butuh aku. Aku sangat mencintaimu." Kataku sambil memegang tangannya. Dia mengangguk, meyakinkanku bahwa dia percaya dan akan selamanya begitu.

"Rey, maukah kau menikah denganku?" Ucapku dalam hati.

*

Hari ini, hari pernikahannya. Dia tampak cantik dalam balutan kebaya putih. Rambutnya disanggul kecil rapih dibelakang kepalanya dan menyisakan ekor rambut ikalnya yang digerai di bahu kirinya. Mata telaganya tampak mencolok diantara adat Jawanya. Aku hanya mampu berdecak kagum, dia sangat sempurna. Dia bidadari terindahku.

Haruskah aku menyalahkan Tuhan atas semua ini? Sudahlah..
Selamat menempuh hidup baru, Rey. Kamu yang paling berharga untukku. Mungkin tugasku untuk menjagamu hanya cukup sampai disini, mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama-sama. Izinkan aku untuk tetap menjadi pemujamu. Aku sangat menyayangimu. Aku terlalu mencandumu, sayang.

13 komentar:

  1. Thank You for such amazing information. This is one of the best sites which provide all the details of related topics.
    Examhelpline.in

    BalasHapus
  2. Thanks for sharing such great information. This is one of the best sites which provide all the details of relevance to topics.
    careinfo.in

    BalasHapus
  3. Thank you for giving us such kind of information. This is one of the best sites having all the informatics details.
    carebaba.com

    BalasHapus
  4. Wonderful details great job thanks for sharing with us.
    JEE Main Admit Card

    BalasHapus
  5. Thanks for such kind of best details. Really this is very amazing information.
    Examhelpline.in

    BalasHapus
  6. Thanks for providing such nice information to us. It provides such amazing information on care/as well Health/. The post is really helpful and very much thanks to you. The information can be really helpful on health, care as well as on examhelp/ tips. The post is really helpful.

    BalasHapus

 
Images by Freepik