Sabtu, 05 Mei 2012

Selamat Jalan!

Mahar tergesa-gesa mengejar detik demi detik waktu. Tetap, Mahar terkalahkan oleh waktu. Entah, sudah berapa lama Nadira mencari batang hidung Mahar di ujung sana. Mungkin, lelaki lain sedang mencumbunya sekarang.

Dan tepat dua belas menit dua puluh delapan detik sudah Mahar menanti ajakan angkutan kota untuk dinaiki. Akhirnya Mahar memutuskan mencari jasa pengendara kendaraan roda dua. Tak lama, Bapak berbaju lusuh --tukang ojek-- langganannya lewat. Bapak pengendara itu menawarkan pelindung kepala pada Mahar, namun Mahar menolaknya. Ia sedang kesal, tak ingin ada benda yang mengganggu organ tubuhnya.

Pagi ini jalanan sedang menyempit, menyusahkan kendaraan yang sedang meraung-raung mengejar waktu. Mahar gelisah, menantikan celah agar dapat dilaluinya.
Menyadari kegelisahan penumpangnya, Bapak pengendara roda dua itu segera berdesak-desakan mencari jalan keluar dari labirin Ibu Kota tersebut. Dengan gigih Bapak itu menyikut kanan dan kiri kendaraan lain, mencoba mencari secercah harapan untuk mengejar waktu lebih cepat. Akhirnya didapatkanlah celah yang dicari.

Jalanan tergesek dengan roda ban gila Bapak itu yang berkecepatan tinggi. Mengejar waktu dan menembus apapun yang ada di depannya tanpa gentar. Kendaraan yang Mahar tumpangi sudah mencapai di tikungan jalan, tinggal beberapa meter lagi untuk bertemu Nadira. tanpa mengurangi kecepatannya, Bapak itu terus melaju dengan motor kebanggaannya. Tiba-tiba, Mahar mendengar bunyi keras antara dua benda berat yang berbenturan. Suasana menjadi hening dan gelap seketika. Mahar merasakan sakit yang bertubi-tubi dikepalanya, memusingkan.

Tak lama kemudian ambulans datang dengan peralatan lengkapnya. Tanpa memikirkan apa yang terjadi, Mahar beranjak dari tempat memuakan itu dan berlari ke tempat tujuannya. Mencari-cari Nadira, wanita kesayangannya. Ia berlari sekencang angin, tanpa memperhatikan sekitarnya. Segala sesuatu ia tabrak, demi menghemat waktu. Sejenak Mahar sempat tertegun, akhirnya ia menyadari apa yang terjadi pada dirinya. Ia berhenti, menatap langit dan ingin memaki Tuhannya. Tak berguna, lalu Mahar segera berlari lagi mencari-cari wanitanya. Kemudian terlihatlah wanita cantik sedang termenung sendirian di sebuah kafetaria sederhana. Syukurlah tak ada yang sedang mencumbunya. Tanpa memperbaiki kerapihan dirinya, Mahar segera masuk ke dalam kafetaria.

Dengan napas terengah-engah, Mahar duduk di seberang Nadira terburu-buru, hampir saja ia menjatuhkan cangkir di meja. Nadira terhenyak dari lamunannya. Di depannya terdapat lelaki pujaannya yang telah ia nantikan dari satu jam yang lalu. Ia ingin sekali marah pada Mahar, namun ketika ia melihat senyuman lelaki itu, hatinya sedikit tenang.
"Hei, Nad!" Sapa Mahar santai.
"Kamu lama banget, kemana aja?" Tanya Nadira, berpura-pura simpati. Amarah masih tersimpan di dalam hatinya.
"Tadi ada masalah sedikit, maaf ya." Mahar mencoba meyakinkannya.
"Bohong!" Teriak Nadira, tinggi. Sambil membuang wajahnya. Ia kesal dengan sikap Mahar yang kadang menyepelekan suatu janji.
"Jadi kamu nggak percaya?" Kata Mahar sembari bangkit dari kursinya.
"Nggak, kamu kan alasannya selalu itu-itu aja." Jawab Nadira, asal. Padahal, ia tau bahwa Mahar memang ceroboh dan selalu terjadi masalah kecil saat dia dikejar waktu.
"Ya sudah, ikut aku." Mahar menarik tangan Nadira keluar dari kafetaria itu, berjalan menyusuri jalanan kota. Ia sangat mengharapkan kejutan dari Mahar, berhubung hari ini adalah hari jadi satu tahunnya dengan Mahar. Ada yang ganjil, batin Nadira. Apa ya? Oh, tangan Mahar begitu dingin dirasa Nadira. Apa yang terjadi? Ah, mungkin Mahar gugup atau sedang sakit, pikir Nadira tenang. Akhirnya sampailah mereka di tikungan jalan. Banyak orang-orang berkumpul, entah meributkan apa. Nadira melangkah mendekati kerumunan orang-orang tersebut, Mahar menyusul Nadira dibelakangnya.

"Kenapa kamu membawaku kesini, Har?" Protes Nadira, kesal.
"Ini masalahku, Nad.." Bisik Mahar ditelinga Nadira. Nadira tak mengerti apa yang dikatakannya.
"Kenapa orang-orang ini menjadi masalahmu, Har?" Tanya Nadira tanpa mencoba memandang Mahar, ia terus mendekati kerumunan orang-orang itu.
"Maafkan aku kalau hari ini aku terlambat menemuimu. Tapi, aku selalu mencoba tepati janjiku. Aku tak pernah melanggar janjiku, bukan? Maaf kalau aku tak pernah bisa memanfaatkan waktu dengan baik saat bersamamu. Jaga dirimu baik-baik ya, Nad. Aku hanya bisa mengantarmu sampai hari ini." Bisik Mahar lagi dengan suara bergetar tanpa memperdulikan pertanyaan Nadira sebelumnya. Nadira tidak dapat berkata-kata, perasaannya tidak enak. Jantungnya berdebar kencang sekali. Ketika Nadira sudah sangat dekat dengan tempat kejadian perkara, ia mendengar bisikan Mahar lagi.
"Jangan bersedih, ya. Kamu harus menemukan yang lebih baik dariku. Aku mencintaimu, Nad. Maaf kalau aku nggak bilang apa masalahku, sekarang kamu sudah tau kan? Selamat tinggal, sayang." Kalimat terakhir Mahar membuatnya tersentak. Ia menoleh kebelakang, mencari-cari Mahar. Sia-sia, ia tak menemukan seseorang yang telah mengisi hidupnya.

Demi mengobati rasa penasarannya, Nadira tetap melangkahkan kakinya menuju pusat perhatian.
"Ada apa ini, Bu?" Tanyanya kebingungan kepada warga disekitar daerah tersebut.
"Oh, ini tadi ada kecelakaan, Dik. Antara motor dengan trek besar. Baru sekitar 17 menit yang lalu." Jawab Ibu-ibu disebelahnya tanpa memandangnya. Siapa ya yang kecelakaan?
Rasa penasarannya semakin menjadi. Ia mendapat tempat terdepan untuk melihat keadaan korbannya.

Nadira tak mampu berbicara. Pandangannya kosong. Jantungnya serasa mau lepas. Kepalanya pening. Napasnya sesak. Ia tak bisa menerima kenyataan ini. Ia menyesal tak memanfaatkan saat terakhirnya bersama Mahar. Tangisnya pecah. Berteriak-teriak ketika melihat jasad Mahar tidak akan membuatnya kembali. Sia-sia!

Dia mencoba mengatur pikirannya. Mencoba melihat jasad Mahar untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri. Kepala Mahar hancur tak berbentuk. Tubuhnya yang terpisah berlumuran darah. Motor yang ditumpanginya rata dengan tanah bersama pengendaranya. Tersisa hanya nama dan kenangan. Dia selalu mencintai lelaki itu, tapi sayang, cinta mereka terhalang dimensi yang berbeda. Selamat jalan, Mahar!

2 komentar:

  1. wah, terharuuuuuu...
    puisinya sesuatu banget :(

    BalasHapus
  2. waa makasiiih ehehe, ini bukan puisi tapi cerita fiksi :)

    BalasHapus

 
Images by Freepik